JAKARTA - Menjelang bulan puasa hingga Hari Raya Idulfitri, petani sayuran di berbagai sentra produksi mulai mengatur strategi tanam dan panen.
Fokus utama mereka adalah memastikan pasokan pangan segar tetap tersedia saat kebutuhan masyarakat meningkat. Upaya ini dilakukan di tengah tantangan cuaca dan dinamika harga yang kerap berubah cepat.
Curah hujan tinggi menjadi salah satu hambatan utama pada musim tanam kali ini. Kondisi tersebut memicu munculnya berbagai penyakit tanaman yang berpotensi menurunkan produktivitas. Situasi ini sekaligus memperlihatkan betapa kompleksnya sistem pangan Indonesia dari hulu hingga hilir.
Petani tidak hanya dituntut menjaga volume produksi, tetapi juga kualitas hasil panen. Stabilitas pasokan selama Ramadan dan Lebaran menjadi perhatian bersama. Kesiapan sejak dini menjadi kunci agar lonjakan permintaan tidak memicu gejolak harga berlebihan.
Strategi Tanam dan Harapan Petani
Menurut Didin Silahudin, petani sayur asal Cianjur, Jawa Barat, persiapan panen jelang Ramadan bukanlah hal baru. Pola konsumsi masyarakat relatif bisa diprediksi, terutama untuk komoditas tertentu seperti cabai, terong dan timun.
“Kami dari jauh-jauh hari sudah membuat pola tanam dimana panen direncakan untuk di bulan puasa. Umumnya untuk hari-hari besar seperti lebaran biasanya permintaan lebih tinggi,” ujarnya.
Pengalaman panjang dalam bertani membuat perencanaan produksi lebih terukur. Petani menyesuaikan jadwal tanam agar masa panen bertepatan dengan momen peningkatan konsumsi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar.
Hal serupa disampaikan oleh Yustam, petani dari Pati, Jawa Tengah. Menurutnya petani di daerahnya telah memahami pola permintaan selama puasa dan menjelang lebaran. Dia menegaskan curah hujan yang sangat tinggi selain memicu pertumbuhan penyakit tanaman juga membatasi jam kerja petani di lahan.
“Kami berharap Pemerintah bisa menjaga agar harga jual hasil panen dapat stabil. Demikian juga dengan ketersediaan sarana produksi,seperti pupuk dan benih serta teknologi pertanian seperti alat mesin pertanian supaya kami lebih efektif dan efisien dalam produksi,” ujarnya.
Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan dukungan nyata bagi petani di lapangan. Stabilitas harga dan sarana produksi menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha tani.
Antisipasi Inflasi dan Peran Statistik
Sejak awal Januari 2026 Badan Pusat Statistik telah memberikan peringatan agar sejumlah komoditas pangan termasuk cabai rawit untuk diantisipasi karena berpotensi memicu inflasi. Peringatan ini muncul seiring meningkatnya permintaan menjelang Ramadan. Pemerintah daerah diminta lebih sigap mengendalikan potensi lonjakan harga.
“Komoditas ini mungkin dapat kita segera antisipasi, karena kita sudah mulai memasuki bulan Ramadan, di bulan depan ini," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya langkah preventif sebelum harga melonjak. Koordinasi antarinstansi menjadi bagian krusial dalam pengendalian inflasi pangan.
Cabai rawit sering menjadi penyumbang inflasi karena fluktuasinya yang tajam. Ketika produksi terganggu cuaca, harga dapat melonjak dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penguatan pasokan dan distribusi menjadi prioritas utama.
Tantangan Struktural Sistem Pangan
Menurut pakar pertanian IPB University, Prof. Bayu Krisnamurti, petani memegang peranan sentral dalam sistem pangan, khususnya untuk pangan segar seperti sayur dan buah. “Tanpa produksi dari petani, tidak akan ada pangan,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan posisi strategis petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurut Bayu, sistem pangan Indonesia saat ini menghadapi tantangan struktural yang semakin berat, mulai dari krisis iklim, degradasi dan keterbatasan lahan, hingga minimnya infrastruktur pendukung seperti cold chain, alat angkut, dan gudang penyimpanan.
Tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya oleh petani di tingkat lapangan. Pendekatan sistemik berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi dinilai sangat diperlukan.
“Inovasi berbasis riset menjadi sangat penting, bahkan kritikal, untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,” kata Bayu. Ia menekankan bahwa perubahan iklim menuntut adaptasi teknologi yang cepat dan tepat. Tanpa inovasi, produktivitas pertanian berisiko menurun dalam jangka panjang.
Bayu menegaskan, peran inovasi khususnya di sektor perbenihan dan penanganan pascapanen sebagai salah satu kunci keberlanjutan. Benih yang tahan kekeringan, tahan genangan, atau mampu meningkatkan produktivitas akan sangat menentukan masa depan usaha tani. Ketahanan terhadap ketidakpastian iklim menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi.
Kolaborasi Industri dan Keberlanjutan
Corporate Secretary PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza, menyampaikan bahwa peran industri perbenihan tidak hanya pada penyediaan benih, tetapi juga pada penguatan kapasitas petani melalui pendampingan.
“Kami memastikan petani memiliki akses terhadap benih sayuran yang adaptif dan produktif, sekaligus memberikan edukasi yang sesuai dan aplikatif untuk mendapatkan hasil yang optimal dari benih berkualitas yang mereka tanam,” ujarnya. Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas produksi di tingkat petani.
Faisal menambahkan, benih yang tepat membantu petani menyusun perencanaan tanam dan panen secara lebih terukur, termasuk untuk menghadapi periode permintaan tinggi seperti bulan puasa dan Idulfitri. Perencanaan yang baik akan mengurangi risiko kekurangan pasokan saat kebutuhan meningkat. Dengan demikian, stabilitas harga dapat lebih terjaga.
Namun, penguatan sistem pangan tidak bisa berjalan secara parsial. Menjaga pasokan pangan bukan semata soal produksi, melainkan tentang bagaimana para aktor di dalamnya bekerja bersama untuk memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Ketahanan pangan nasional hanya bisa terwujud jika seluruh mata rantai mulai dari riset, industri, hingga petani saling terhubung dan saling menguatkan,” tutup Faisal.