JAKARTA - Pembangunan pabrik gas alam cair (LNG) terintegrasi yang pertama kali berlokasi di darat atau onshore di Jawa, milik PT Sumber Aneka Gas, segera diresmikan dan beroperasi secara komersial.
Pabrik ini diharapkan menjadi salah satu pendorong ketahanan energi nasional dan mengoptimalkan pemanfaatan gas dalam negeri.
Pabrik yang juga terintegrasi dengan LPG dan kondensat ini merupakan fasilitas LNG terbesar yang ada di Pulau Jawa, dan direncanakan untuk dapat beroperasi pasca-Lebaran 2026.
Pembangunan Pabrik LNG yang Strategis di Pulau Jawa
Pabrik LNG yang dikelola PT Sumber Aneka Gas ini merupakan proyek ambisius yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebutkan bahwa pabrik ini akan memperkuat produksi gas dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Pembangunan pabrik terintegrasi yang mencakup LPG dan kondensat ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam sektor energi global.
Dijelaskan oleh Djoko, pabrik LNG ini menjadi yang kedua di Pulau Jawa, setelah sebelumnya sudah ada fasilitas serupa di wilayah tersebut.
"Proyek ini adalah pabrik LNG terbesar yang ada di Jawa. Ini tidak hanya akan mendukung ketahanan energi dalam negeri, tetapi juga memperkuat sektor industri gas dan minyak," ujar Djoko.
Proses Pengolahan Gas Sumber dan Tantangannya
Sumber gas utama untuk pabrik ini adalah Lapangan Sumber yang terletak di Jawa Timur dan dikelola oleh Pertamina EP. Lapangan ini memiliki cadangan gas yang cukup besar, namun proses monetisasi gas sempat terhambat oleh berbagai kendala birokrasi.
Ditemukan sekitar 10 tahun lalu, Lapangan Sumber mengandung gas dengan kadar CO? yang cukup tinggi (47%) serta kandungan nitrogen 3%, menjadikannya salah satu gas dengan komposisi CO? tertinggi yang pernah diproses di Indonesia.
Proses pengolahan gas di pabrik ini akan melibatkan tahap pemisahan CO? dan nitrogen. Gas bersih atau lean gas kemudian akan diolah menjadi LNG, LPG, dan kondensat. Teknologi yang diterapkan di fasilitas ini memungkinkan pemanfaatan optimal terhadap berbagai komponen gas yang ada.
Salah satu fitur penting dari proyek ini adalah integrasi program Carbon Capture Storage/Utilization (CCS/CCUS), di mana gas CO? yang terpisah akan disimpan dengan aman dan digunakan kembali dalam program pengurangan emisi karbon.
Target Produksi dan Dampak Ekonomi yang Signifikan
Pabrik LNG yang akan beroperasi ini diperkirakan dapat menghasilkan kapasitas produksi yang sangat besar. Proyek ini diharapkan mampu memproduksi LNG sebesar 10 BBtud (billion British thermal unit per day), LPG sekitar 30 metrik ton per hari, serta kondensat sebanyak 500 barel per hari.
Dengan kapasitas produksi ini, pabrik diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan lifting migas nasional.
Djoko Siswanto juga menyampaikan bahwa proyek ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi energi, tetapi juga pada ekonomi daerah sekitar. Dengan adanya pabrik LNG ini, lapangan kerja baru akan tercipta, dan perekonomian daerah akan semakin berkembang.
Di samping itu, proses konstruksi dan operasional pabrik juga diharapkan dapat menggerakkan sektor lain yang berkaitan dengan energi, dari hilir hingga hulu.
Selain itu, proyek ini juga mengoptimalkan penggunaan sumber daya gas domestik, yang sebelumnya mungkin terbuang percuma karena keterbatasan fasilitas pengolahan. Dengan demikian, fasilitas LNG ini juga memperkuat upaya monetisasi gas bumi Indonesia.
Investasi Besar untuk Proyek Jangka Panjang
Pembangunan pabrik LNG ini membutuhkan investasi yang cukup besar, diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Investasi tersebut mencakup seluruh fasilitas pabrik, pengolahan gas, serta pembangunan infrastruktur terkait lainnya. Djoko juga menambahkan bahwa proyek ini telah menyerap tenaga kerja yang signifikan selama fase konstruksi.
“Keberhasilan proyek ini sangat penting, dan harapan kami adalah dapat terus menjaga proses komisioning hingga peresmian berjalan lancar,” tambah Djoko.
Selain itu, Djoko juga menegaskan bahwa proyek ini menjadi momentum penting dalam menyelesaikan proyek migas yang tertunda. "Ke depan, tidak boleh ada lagi proyek migas yang tertunda terlalu lama. Proyek ini menjadi contoh penting bahwa proyek energi harus dilakukan dengan cepat, tepat, dan sesuai aturan," pungkasnya.
Dengan keberhasilan pabrik LNG darat ini, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan energi dalam negeri tetapi juga memperlihatkan komitmennya untuk mengoptimalkan potensi gas domestik secara maksimal. Ke depan, fasilitas ini akan berkontribusi dalam mendukung pencapaian target energi nasional serta meningkatkan keberlanjutan sektor energi Indonesia.