Danantara

Penguatan Armada Garuda Indonesia Didukung Penuh oleh Danantara

Penguatan Armada Garuda Indonesia Didukung Penuh oleh Danantara
Penguatan Armada Garuda Indonesia Didukung Penuh oleh Danantara

JAKARTA - Upaya memperkuat industri penerbangan nasional terus dimatangkan melalui rencana strategis penambahan armada pesawat. 

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia kini mengkaji berbagai opsi untuk merealisasikan pembelian lima puluh unit pesawat dari Boeing bagi PT Garuda Indonesia Persero Tbk. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan konektivitas udara sekaligus dukungan terhadap maskapai nasional.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara tengah mengkaji berbagai opsi skema untuk merealisasikan rencana pembelian sebanyak lima puluh unit pesawat dari Boeing untuk PT Garuda Indonesia Persero Tbk. 

Proses pembahasan masih berada pada level teknis pemerintahan dan melibatkan berbagai pertimbangan strategis. Fokus utama diarahkan pada kesiapan suplai, pendanaan, serta kebutuhan operasional maskapai.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas memastikan pihaknya siap untuk melakukan pembelian sebanyak lima puluh unit pesawat dari Boeing. 

Namun saat ini pembahasannya masih berada di tahap teknis dan belum masuk pada kesepakatan final dengan produsen. Kesiapan tersebut menunjukkan komitmen mendukung ekspansi armada Garuda Indonesia.

Pembahasan Teknis dan Respons Boeing

"Ini masih pembahasan teknis, artinya kita siap membeli lima puluh unit, tapi Boeing belum menjawab atau akan menjawab, dia mampunya sepuluh unit, dua puluh unit, itu belum," ujar Rohan dalam Exclusive Group Interview di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis. 

Pernyataan itu menegaskan bahwa komunikasi dengan pihak produsen masih berlangsung. Kapasitas produksi Boeing menjadi salah satu faktor penting dalam realisasi rencana tersebut.

Rohan mengatakan salah satu permasalahan dalam pengadaan armada pesawat yaitu terkait delivery time atau waktu pengiriman dari produsen. Waktu tunggu tersebut dinilai bisa mencapai tujuh tahun karena antrean global yang panjang. Kondisi ini menjadi tantangan utama bagi maskapai yang ingin mempercepat ekspansi armada.

"Mau milih jenis pesawat yang mana, kalau delivery time-nya juga enggak segera, kita harus diputar otak dulu kan. Karena masih bahas juga, maksudnya kita kan calon pembeli, kita belum bayar. Kita bilang butuh lebih cepat dari tujuh tahun, tapi antrean rata-rata seluruh dunia ya sama," ujar Rohan. Ia menekankan bahwa negosiasi harus mempertimbangkan ketersediaan produksi di tingkat global.

Opsi Pendanaan dan Skema Cicilan

Terkait potensi sumber pendanaan untuk pembelian lima puluh unit pesawat tersebut, Rohan mengatakan terdapat berbagai opsi skema pendanaan. Salah satu opsi yang terbuka adalah skema cicilan langsung dengan pihak Boeing sebagai pemasok. Pembahasan sumber dana menjadi bagian penting sebelum transaksi direalisasikan.

"Sources of fund itu kan bisa macam-macam ya, tapi kan suppliers credit juga ada kan, kita juga bisa nyicil ke Boeing. Itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan," ujar Rohan. Pernyataan tersebut menunjukkan fleksibilitas dalam menentukan model pembiayaan. Negosiasi lanjutan akan menentukan struktur pendanaan paling efektif.

Lebih lanjut, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan memberikan suntikan modal lagi ke Garuda Indonesia ke depan. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung penambahan armada secara berkelanjutan. Dukungan modal akan disesuaikan dengan kebutuhan ekspansi maskapai.

Dukungan Modal dan Efisiensi Armada

Pada pertengahan dua ribu dua puluh lima, PT Danantara Asset Management telah mengalokasikan suntikan modal kepada Garuda Indonesia sebesar dua puluh tiga koma enam puluh tujuh triliun rupiah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi dan penguatan keuangan perusahaan. Suntikan modal lanjutan masih terbuka sesuai kebutuhan strategis.

"Capital injection harus ada, nanti next. Mau beli pesawat sebetulnya, tapi pesawat itu di seluruh dunia antre airlines mana pun, bisanya tujuh tahun, makanya nomor satu tadi merger dulu lebih bagus, digabung supaya jumlah armadanya itu efisien yang satu rute," ujar Rohan. 

Ia menilai efisiensi armada juga dapat dicapai melalui langkah konsolidasi. Strategi tersebut diharapkan memperkuat struktur operasional Garuda Indonesia.

Sebagaimana diketahui, pada pekan lalu Indonesia dan Amerika Serikat telah menandatangani dokumen kesepakatan dagang bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance. 

Dokumen tersebut memuat ketentuan perdagangan timbal balik antara kedua negara. Salah satu poinnya berkaitan dengan pengadaan pesawat komersial dan layanan penerbangan.

Kesepakatan Dagang dan Komitmen Pembelian

Dalam salah satu poin kesepakatan dagang, Indonesia wajib melakukan pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai tiga belas koma lima miliar dolar Amerika Serikat. 

Ketentuan ini menjadi bagian dari kerja sama ekonomi yang lebih luas antara kedua negara. Rencana pembelian pesawat Boeing pun masuk dalam konteks tersebut.

"Dari Agreement Reciprocal Tarif ini, ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun di Danantara, di antaranya rencana pembelian lima puluh pesawat dari Boeing," ujar Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers yang digelar daring dari Washington DC, Amerika Serikat pada Jumat, dua puluh Februari dua ribu dua puluh enam. 

Pernyataan itu memperjelas keterkaitan rencana pembelian dengan kesepakatan dagang bilateral. Pemerintah memastikan pembahasan terus berjalan secara terukur dan terkoordinasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index