JAKARTA - Pemerintah Kota Palembang tengah mengebut pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Wali Kota Ratu Dewa menegaskan proyek ini strategis dalam mengurangi volume sampah kota. Dengan adanya PLTSa, sampah dapat diolah menjadi energi listrik ramah lingkungan sekaligus menekan timbunan di Tempat Pembuangan Akhir.
Dewa menambahkan, fasilitas ini akan menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah kota. PLTSa dirancang mampu menangani hingga 1.000 ton sampah per hari. Tujuannya adalah mengurangi beban TPA dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah.
Kapasitas Produksi Listrik dan Penurunan Sampah
PLTSa Palembang ditargetkan menghasilkan listrik hingga 20 megawatt. “Produksi sampah kita saat ini berkisar 1.200 ton per hari. Artinya, PLTSa ini akan berperan besar dalam menekan volume sampah secara signifikan, bahkan hingga 80 persen volume yang masuk fasilitas,” jelas Dewa. Proyek ini diharapkan menjadi solusi ganda, yaitu energi bersih dan pengurangan sampah.
Selain itu, sistem PLTSa dilengkapi teknologi filtrasi berlapis untuk meminimalkan emisi. Pemantauan gas metana dan dioksin dilakukan secara kontinu. Langkah ini menjamin seluruh parameter lingkungan tetap sesuai baku mutu.
Dengan kapasitas 20–24 jam operasional per hari, PLTSa mampu mendistribusikan sampah 40–50 ton per jam. Dewa menegaskan, hal ini menuntut konsistensi pasokan sampah dari seluruh TPS. Jika sistem distribusi tepat, manfaat pengolahan sampah dapat maksimal dan volume timbunan menurun secara signifikan.
Distribusi Sampah dan Tantangan Armada
Palembang saat ini memiliki sekitar 160 armada pengangkut sampah untuk 18 kecamatan. Namun, operasional optimal PLTSa memerlukan 220 armada, sehingga masih ada kekurangan sekitar 60 unit. Dewa menekankan perlunya peremajaan kendaraan tua dan pengadaan armada baru.
Manajemen distribusi sampah harus berbasis data akurat agar pengiriman ke PLTSa tepat waktu. Sistem ini bertujuan menghindari ketidakteraturan dan memastikan fasilitas bekerja efisien. Penguatan armada menjadi kunci agar PLTSa mampu mengolah sampah sesuai kapasitas yang direncanakan.
Selain itu, koordinasi antara armada dan TPS perlu diperketat. Dewa menilai, kesalahan distribusi dapat mengurangi efektivitas pengolahan. Dengan jumlah armada yang cukup, pengolahan sampah kota dapat berjalan lancar setiap hari.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Keberhasilan PLTSa juga sangat tergantung pada partisipasi masyarakat. Dewa mendorong warga menerapkan prinsip 3R: Reduce, Reuse, Recycle. Pemilahan sampah sejak rumah tangga menjadi langkah awal yang penting.
Masyarakat yang aktif memilah sampah akan memudahkan proses pengolahan di PLTSa. Sampah organik dan non-organik dapat dikelola sesuai kebutuhan fasilitas. Partisipasi warga turut memastikan proyek berjalan efektif dan volume sampah dapat ditekan maksimal.
Selain itu, edukasi lingkungan dan kampanye pengurangan sampah menjadi fokus Pemkot Palembang. Dewa menekankan, perubahan perilaku masyarakat sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur. Kesadaran kolektif dapat mendorong keberlanjutan proyek PLTSa dan kualitas lingkungan kota meningkat.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan PLTSa
PLTSa tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menghasilkan energi listrik bersih. Listrik yang dihasilkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan kota. Dengan demikian, proyek ini memberikan manfaat ganda: pengurangan sampah sekaligus kontribusi terhadap energi ramah lingkungan.
Selain itu, pengolahan sampah menjadi energi mengurangi emisi gas metana dari tumpukan sampah. Teknologi filtrasi dan pemantauan emisi memastikan dampak lingkungan tetap minimal. Hal ini sejalan dengan komitmen kota Palembang terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dewa menyatakan, proyek PLTSa diharapkan menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia. Dengan kapasitas tinggi dan manajemen yang terintegrasi, fasilitas ini bisa menjadi referensi pengelolaan sampah modern.
Keberhasilan PLTSa akan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah.