JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, kepastian tarif listrik menjadi kebutuhan penting masyarakat.
PT PLN memastikan informasi besaran tarif per kWh mudah diakses untuk semua kelompok pelanggan. Hal ini membantu rumah tangga dan pelaku usaha menyusun strategi pengeluaran energi dengan lebih efisien.
Peningkatan kebutuhan listrik diprediksi terjadi selama aktivitas ibadah dan domestik meningkat. Pemerintah melalui PLN menegaskan klasifikasi tarif untuk rumah tangga, sektor industri, pelaku bisnis, hingga fasilitas publik. Langkah ini menunjukkan transparansi sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Pembagian tarif antara pelanggan bersubsidi dan non-subsidi menjadi instrumen utama menjaga daya beli masyarakat. Pendekatan ini juga memastikan keberlanjutan energi bagi seluruh sektor. Masyarakat dapat merencanakan penggunaan listrik secara cermat selama bulan puasa dan Lebaran.
Tarif Listrik Golongan Non-Subsidi
Bagi pelanggan non-subsidi, besaran tarif disesuaikan dengan fluktuasi indikator ekonomi makro. Untuk pertengahan Februari, tarif per kWh tercatat stabil di berbagai kategori. Hal ini memberikan kepastian biaya bagi rumah tangga, pelaku usaha, dan instansi publik.
Sektor rumah tangga dengan daya 900 VA dikenakan Rp 1.352 per kWh. Untuk daya 1.300 VA hingga 2.200 VA, tarif sebesar Rp 1.444,70 per kWh, sedangkan daya 3.500 VA ke atas dibanderol Rp 1.699,53 per kWh. Tarif ini membantu konsumen merencanakan penggunaan energi secara bijak selama puasa.
Sektor bisnis menengah dan kantor pemerintah juga memiliki tarif jelas. Bisnis menengah dengan daya 6.600 VA hingga 200 kVA dikenakan Rp 1.444,70 per kWh. Penerangan jalan umum dan instansi di atas 200 kVA mendapat tarif Rp 1.699,53 per kWh, menjaga kelancaran operasional publik.
Tarif Listrik Golongan Subsidi
Pemerintah tetap memberikan bantuan energi bagi pelanggan bersubsidi. Rumah tangga 450 VA dikenakan tarif Rp 415 per kWh, sedangkan rumah tangga 900 VA bersubsidi dibanderol Rp 605 per kWh. Rumah tangga mampu dengan daya 900 VA menggunakan tarif Rp 1.352 per kWh, memastikan keadilan energi.
Daya 1.300 VA hingga 2.200 VA untuk golongan subsidi dikenakan tarif Rp 1.444,70 per kWh. Sementara rumah tangga 3.500 VA ke atas memiliki tarif Rp 1.699,53 per kWh. Kepastian ini memberi kenyamanan bagi masyarakat dalam mengatur anggaran energi bulanan.
Subsidi energi diharapkan membantu meringankan beban rumah tangga berpendapatan rendah. Strategi ini juga menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan pasokan energi. Pelanggan dapat memanfaatkan informasi tarif untuk menghemat pengeluaran selama Ramadan.
Tips Penggunaan Listrik Efisien
Dengan kepastian tarif, masyarakat disarankan memantau pemakaian alat elektronik di rumah. Penggunaan AC dan lampu sebaiknya disesuaikan terutama saat sahur dan berbuka. Langkah ini dapat membantu menjaga tagihan listrik tetap terkendali setiap bulan.
Pelanggan juga dianjurkan melakukan pembayaran tepat waktu bagi pengguna pascabayar. Pembayaran sebelum tanggal 20 setiap bulan menghindari denda atau pemutusan sementara. Disiplin dalam membayar sekaligus bijak menggunakan listrik membantu rumah tangga menjaga anggaran tetap efisien.
Pemantauan rutin terhadap konsumsi listrik menjadi kunci untuk menghadapi fluktuasi penggunaan energi. Kesadaran ini juga mendorong masyarakat lebih hemat dan berperan aktif dalam konservasi energi. Tips sederhana seperti mematikan peralatan saat tidak digunakan memberikan manfaat signifikan.
Kesiapan Energi Menjelang Ramadan
Kepastian tarif listrik di berbagai golongan menegaskan kesiapan pemerintah dan PLN menghadapi Ramadan dan Lebaran. Pasokan listrik dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, usaha, dan fasilitas publik. Hal ini menjadi bagian dari strategi menjaga kenyamanan masyarakat selama bulan suci.
Peningkatan pemakaian listrik selama puasa dan perayaan Lebaran sudah diperhitungkan. Dengan informasi tarif yang jelas, konsumen dapat mengatur konsumsi sesuai kemampuan. Kesiapan energi ini menunjukkan perencanaan matang dan komitmen menjaga stabilitas nasional.
Transparansi tarif juga mendorong kepercayaan masyarakat terhadap sistem kelistrikan. Rumah tangga dan pelaku usaha dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk merencanakan pengeluaran energi. Dengan langkah tepat, masyarakat tetap bisa menjalani Ramadan dan Lebaran dengan aman dan nyaman.