Harga Beras Turun Secara Bulanan, Namun Masih Naik Secara Tahunan

Selasa, 03 Maret 2026 | 09:07:16 WIB
Harga Beras Turun Secara Bulanan, Namun Masih Naik Secara Tahunan

JAKARTA - Perkembangan harga beras terbaru menunjukkan dinamika berbeda antara penurunan bulanan dan kenaikan tahunan. 

Badan Pusat Statistik mencatat adanya koreksi tipis pada beras medium secara bulanan, namun tekanan harga masih terasa dalam hitungan tahunan. Kondisi ini menggambarkan bahwa stabilisasi belum sepenuhnya terjadi di seluruh segmen kualitas beras.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa jika dirinci berdasarkan kualitas, harga beras medium turun 0,14 persen secara bulanan, tetapi masih meningkat 4,64 persen secara tahunan. 

Sementara itu, harga beras premium di tingkat penggilingan justru naik 0,30 persen secara bulanan dan melonjak 9,46 persen secara tahunan. Data ini menunjukkan perbedaan tekanan harga antara dua kategori utama beras di pasar.

“Beras medium mengalami penurunan 0,14 persen secara month to month dan secara year on year untuk beras medium mengalami peningkatan 4,64 persen,” jelas Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa walaupun ada perbaikan dalam jangka pendek, tren tahunan masih menunjukkan kenaikan. Hal ini menjadi perhatian karena beras medium merupakan jenis yang banyak dikonsumsi masyarakat luas.

Kenaikan Harga Hingga Tingkat Konsumen

Selain di tingkat penggilingan, BPS juga mencermati perkembangan harga pada jalur distribusi berikutnya. Perubahan harga yang terjadi di tingkat grosir dan eceran menjadi indikator penting untuk melihat dampak langsung terhadap konsumen. Data menunjukkan bahwa tekanan harga masih berlanjut hingga ke pasar ritel.

Lebih lanjut, Ateng menuturkan bahwa pada Februari 2026 harga beras di tingkat grosir mengalami inflasi 0,46 persen secara bulanan dan 4,98 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi tercatat sebesar 0,43 persen secara month to month dan 3,61 persen secara year on year. Kondisi ini mencerminkan kenaikan harga beras yang masih berlanjut hingga konsumen akhir.

“Sebagai informasi, harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan seluruh wilayah di Indonesia,” jelasnya. Penegasan ini penting untuk memberikan gambaran bahwa angka yang dirilis merupakan representasi nasional. Dengan demikian, fluktuasi yang terjadi telah memperhitungkan variasi harga di berbagai daerah.

Konteks Perdagangan dan Dinamika Ekonomi

Pergerakan harga beras juga berlangsung di tengah dinamika perdagangan nasional. Pada periode yang sama, aktivitas ekspor dan impor Indonesia turut menunjukkan perkembangan signifikan. Faktor-faktor ini secara tidak langsung membentuk lanskap ekonomi yang memengaruhi daya beli dan distribusi komoditas pangan.

Nilai Tukar Petani Mengalami Kenaikan

Di tengah perkembangan harga beras, BPS juga melaporkan kondisi kesejahteraan petani melalui indikator Nilai Tukar Petani. Angka ini menjadi ukuran penting untuk melihat perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran petani. Kenaikan NTP sering diartikan sebagai sinyal membaiknya posisi tawar petani.

Di sisi lain, BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2026 mencapai 125,45, atau naik 1,50 persen dibandingkan Januari 2026. 

Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 2,17 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik 0,65 persen. Situasi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran mereka.

“Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani yaitu cabai rawit, kelapa sawit, karet, dan bawang merah,” jelas Ateng. Kenaikan harga komoditas tersebut berkontribusi terhadap membaiknya NTP secara nasional.

Dengan demikian, meskipun harga beras masih mengalami tekanan tahunan, sektor pertanian secara umum menunjukkan perbaikan indikator kesejahteraan.

Terkini