TNI AL Matangkan Kesiapan Awak Kapal Induk Garibaldi Secara Intensif

Kamis, 26 Februari 2026 | 10:15:58 WIB
TNI AL Matangkan Kesiapan Awak Kapal Induk Garibaldi Secara Intensif

JAKARTA - Langkah besar penguatan pertahanan laut Indonesia kini memasuki fase persiapan sumber daya manusia.

TNI Angkatan Laut menyiapkan ratusan prajurit terbaik dari Korps Pelaut untuk mengawaki kapal induk Giuseppe Garibaldi. Kapal buatan Italia itu ditargetkan tiba di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026.

Persiapan 500 Prajurit Korps Pelaut

Kesiapan personel menjadi fondasi utama sebelum kapal induk resmi beroperasi. Sekitar 500 prajurit dari Korps Pelaut disiapkan untuk menjadi calon awak kapal induk Indonesia Giuseppe Garibaldi. Jumlah tersebut dipandang sebagai kebutuhan minimal untuk memastikan operasional kapal berjalan optimal.

"Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Dari mulai sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk," kata Asisten Operasi Kepala Staf TNI AL Laksamana Muda Yayan Sofiyan. 

Penegasan itu menunjukkan bahwa proses peningkatan kompetensi telah dimulai sejak dini. Setiap level kepangkatan dituntut memahami standar khusus pengoperasian kapal induk.

Pernyataan tersebut disampaikan Yayan dalam diskusi bertajuk “Indonesia's Blue Water Transition: Why High-Value ASW/AAW Assets Will Decide Its Credibility” yang berlangsung secara daring. 

Forum itu membahas pentingnya kesiapan aset bernilai tinggi dalam mendukung transisi kekuatan laut Indonesia. Kapal induk dinilai sebagai salah satu elemen strategis dalam memperkuat kredibilitas pertahanan maritim nasional.

Kebutuhan Kru dan Kompetensi Khusus

Jumlah 500 personel yang disiapkan disebut sebagai kru inti kapal. Angka tersebut bahkan berpotensi bertambah karena belum mencakup kru non-inti di luar navigasi hingga penerbang. Artinya, kebutuhan sumber daya manusia bisa melampaui perhitungan awal seiring kompleksitas operasional kapal induk.

Kapal induk memerlukan keahlian berbeda dibanding kapal perang lainnya. Pengawak harus memahami sistem navigasi besar, manajemen penerbangan, hingga prosedur keselamatan berstandar tinggi. Karena itu, proses pembekalan dilakukan menyeluruh agar setiap prajurit mampu menjalankan tugasnya secara presisi.

Selain kesiapan individu, koordinasi antarsatuan juga menjadi perhatian utama. Operasional kapal induk melibatkan berbagai divisi teknis dan taktis yang harus terintegrasi. Dengan perencanaan matang, TNI AL menargetkan seluruh kru mampu bekerja sebagai satu kesatuan yang solid.

Infrastruktur dan Dukungan Teknis

Persiapan tidak berhenti pada sumber daya manusia semata. TNI AL juga harus menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas sandar dan kebutuhan teknis lainnya. Kapal induk berukuran besar membutuhkan pelabuhan dengan spesifikasi tertentu agar dapat bersandar dengan aman.

Berbagai aspek teknis mulai dipetakan sejak awal proses persiapan. Kebutuhan perawatan rutin, suplai energi, hingga sistem pendukung penerbangan harus tersedia sebelum kapal tiba. Langkah ini dilakukan agar pengoperasian tidak mengalami hambatan saat kapal resmi memperkuat armada.

"Bisa kita bayangkan sandar di suatu tempat membutuhkan dukungan logistik kru yang 500. Itu hanya kru inti saja. Kru untuk penerbangan, sistem aviation dan sebagainya," kata Yayan. Pernyataan tersebut menggambarkan kompleksitas dukungan yang harus disiapkan secara detail. Setiap elemen logistik menjadi faktor penentu keberhasilan operasional jangka panjang.

Logistik dan Operasional Jangka Panjang

Kapal induk dirancang untuk menjalankan misi dalam durasi lama di laut. Oleh sebab itu, kebutuhan logistik bagi ratusan kru menjadi perhatian serius sejak tahap perencanaan. Ketersediaan makanan, air, perlengkapan medis, hingga kebutuhan teknis harus dihitung secara cermat.

Dukungan logistik bukan hanya soal jumlah, tetapi juga ketepatan distribusi. Sistem suplai harus mampu menjamin keberlanjutan operasi tanpa mengganggu kesiapan tempur. TNI AL memandang perencanaan matang sebagai investasi penting demi efektivitas misi.

Walau memerlukan banyak persiapan, keyakinan terhadap kesiapan institusi tetap tinggi. Yayan menegaskan TNI AL siap memenuhi seluruh kebutuhan demi pengoperasian kapal induk secara maksimal. Optimisme tersebut didasarkan pada pengalaman panjang TNI AL dalam mengelola berbagai alutsista strategis.

Proses Akuisisi dan Target Kedatangan

Saat ini, proses akuisisi kapal induk masih berjalan di tingkat Kementerian Pertahanan. Koordinasi juga dilakukan dengan pihak Italia serta Fincantieri sebagai galangan kapal. Tahapan administratif dan teknis terus dipantau agar target waktu dapat tercapai.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi diharapkan tiba sebelum HUT TNI pada 5 Oktober 2026. Momentum tersebut dipandang simbolis sebagai tonggak penguatan pertahanan laut Indonesia. Kehadiran kapal induk diyakini akan meningkatkan daya gentar sekaligus memperluas jangkauan operasi maritim nasional.

Dengan berbagai persiapan yang tengah berjalan, TNI AL menunjukkan komitmen serius dalam memasuki era baru kekuatan laut. Penyiapan 500 prajurit Korps Pelaut menjadi langkah awal menuju pengoperasian kapal induk secara profesional. 

Sinergi antara kesiapan personel, infrastruktur, dan dukungan logistik diharapkan memastikan kapal induk Garibaldi dapat beroperasi optimal saat resmi bergabung dengan armada Indonesia.

Terkini