JAKARTA - Agenda diplomasi Presiden Prabowo Subianto di Timur Tengah kembali menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang menempatkan isu kemanusiaan sebagai prioritas.
Dalam kunjungan resminya ke Amman, pertemuan dengan Raja Abdullah II ibn Al Hussein tidak hanya menjadi seremoni bilateral, melainkan ruang konkret membahas kerja sama strategis kawasan. Isu Gaza, koordinasi negara-negara Timur Tengah, hingga dorongan solusi jangka panjang bagi Palestina menjadi benang merah pembicaraan yang disorot publik.
Pertemuan di Istana Basman ini dipandang sebagai kelanjutan dari diplomasi aktif Indonesia yang belakangan intens membangun jejaring kerja sama dengan mitra-mitra kunci di kawasan.
Di tengah eskalasi konflik dan kebutuhan akses kemanusiaan yang mendesak, Indonesia menempatkan Yordania sebagai simpul penting dalam jalur diplomasi dan logistik kemanusiaan. Posisi geografis dan peran politik Yordania dinilai strategis untuk memperkuat upaya kolektif mendorong stabilitas.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pembahasan mencakup tindak lanjut koordinasi multinegara melalui Board of Peace. Kerangka ini diproyeksikan menjadi wadah penguatan konsensus negara-negara kawasan dalam merespons konflik, khususnya terkait Gaza.
Melalui pendekatan kolaboratif, Indonesia berupaya memastikan bahwa diplomasi kemanusiaan berjalan beriringan dengan upaya politik yang berkelanjutan.
Di akhir pertemuan, gestur personal Raja Yordania yang mengantar langsung Presiden Indonesia menuju bandara menjadi simbol kedekatan hubungan bilateral.
Momen ini dibaca sebagai penegasan bahwa diplomasi tidak hanya bertumpu pada pernyataan resmi, tetapi juga relasi antarpemimpin yang memperkuat kepercayaan. Rangkaian pertemuan tersebut sekaligus menutup agenda Amman sebelum Presiden melanjutkan lawatan berikutnya.
Pertemuan Bilateral Bahas Isu Strategis Kawasan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan hasil pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein, di Istana Basman, Amman, Rabu waktu setempat.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu strategis kawasan, khususnya terkait upaya mendorong perdamaian di Gaza serta penguatan koordinasi negara-negara di kawasan Timur Tengah.
“Menindaklanjuti rapat pertama BoP (Board of Peace) dengan Arab Saudi, UAE, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan negara tepi barat lain sesama anggota BoP,” ujar Seskab Teddy di Amman, Rabu.
Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo dan Raja Abdullah II juga membahas penguatan peran Indonesia dan Yordania dalam menangani situasi di Gaza.
Peran Yordania Dalam Akses Kemanusiaan
Teddy menyebut, Yordania dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung akses kemanusiaan maupun diplomasi kawasan.
“Perkuat kerja sama RI-Yordania tangani perdamaian di Gaza. Yordania adalah salah satu pintu masuk melalui darat, laut dan udara,” lanjut dia.
Selain itu, kedua pemimpin negara turut membahas solusi jangka panjang atas konflik Palestina–Israel.
Menurut Teddy, pembahasan itu menegaskan bahwa Indonesia dan Yordania memiliki pandangan yang sejalan dalam mendorong penyelesaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina.
Komitmen Dorong Solusi Dua Negara
"Pembahasan mengenai two state solution,” kata dia.
Pernyataan tersebut mencerminkan kesamaan pandangan kedua negara dalam mendorong kerangka penyelesaian konflik yang diakui secara internasional.
Indonesia menempatkan isu Palestina sebagai prioritas diplomasi kemanusiaan dan politik luar negerinya. Yordania, dengan jejaring kawasan yang kuat, dipandang sebagai mitra strategis untuk memperluas dampak diplomasi tersebut.
Simbol Kedekatan Hubungan Diplomatik
Sebagai penutup rangkaian pertemuan, Raja Abdullah II mengantar langsung Presiden Prabowo menuju bandara, bahkan menyopiri sendiri kendaraan yang membawa keduanya.
Momen itu disebut menjadi simbol kuat eratnya hubungan personal dan diplomatik antara Indonesia dan Yordania di tengah komitmen bersama untuk mendorong perdamaian kawasan.
Gestur tersebut mempertegas kepercayaan antarpemimpin dan memperkuat pesan persahabatan kedua negara. Hubungan bilateral diharapkan terus berkembang melalui kerja sama konkret di bidang kemanusiaan dan diplomasi regional.