Update Harga Minyak Dunia Tetap Stabil Meski Ketegangan Global Meningkat

Senin, 23 Februari 2026 | 09:18:24 WIB
Update Harga Minyak Dunia Tetap Stabil Meski Ketegangan Global Meningkat

JAKARTA - Pasar energi global memasuki awal pekan dengan nuansa kehati-hatian tinggi. 

Pelaku pasar mencermati dinamika geopolitik serta kebijakan perdagangan yang berpotensi memengaruhi keseimbangan suplai dan permintaan. Dalam kondisi tersebut, harga minyak dunia diproyeksi bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin, 23 Februari.

Meski cenderung stabil, pergerakan harga minyak tetap berpotensi dinamis. Ketidakpastian terkait tarif perdagangan serta potensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi faktor utama yang diperhatikan investor. Kombinasi sentimen tersebut membuat pelaku pasar menahan diri sambil menunggu perkembangan terbaru.

Brent Crude terakhir ditutup menguat 0,14% ke US$71,76. Sementara West Texas Intermediate atau WTI melemah tipis 0,06% ke US$66,39. Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan sikap hati-hati investor dalam merespons berbagai isu global.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat

Investor tengah menantikan perkembangan terbaru dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pekan lalu kembali memperingatkan bahwa hal-hal buruk akan terjadi jika tidak ada kesepakatan nuklir dari Iran-AS. Pernyataan tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Iran di sisi lain menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan draf proposal balasan. Dokumen tersebut diperkirakan akan rampung dalam beberapa hari ke depan menyusul perundingan nuklir terbaru. Langkah ini menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka meskipun ketegangan meningkat.

Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap potensi konflik dari Iran-AS. Trump saat ini tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran. Situasi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dari negara-negara di Timur Tengah.

Dinamika Pasokan Minyak Amerika Serikat

Dari Amerika Serikat, Energy Information Administration atau EIA mengumumkan bahwa stok minyak mentah turun sekitar 9 juta barel. Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya utilisasi kilang dan ekspor. Data tersebut memberikan sentimen tersendiri terhadap pasar energi global.

Turunnya stok minyak mentah menunjukkan adanya pengetatan pasokan dalam jangka pendek. Kondisi ini biasanya menjadi faktor penopang harga minyak di pasar internasional. Namun, dampaknya tetap dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang lebih luas.

Keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi perhatian utama investor saat ini. Jika ketegangan geopolitik meningkat, risiko gangguan distribusi dapat mempercepat kenaikan harga. Sebaliknya, apabila situasi mereda, tekanan harga dapat kembali terkendali.

Isu Tarif dan Dampaknya ke Pasar

Selain faktor geopolitik, isu tarif perdagangan juga menjadi sorotan pelaku pasar. Supreme Court of the United States menyatakan penggunaan kewenangan darurat untuk menerapkan tarif perdagangan sebagai tidak konstitusional. Keputusan ini menambah kompleksitas dinamika kebijakan ekonomi global.

Namun, Trump merespons hal tersebut dengan menetapkan tarif global naik menjadi 15%. Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian baru terhadap arus perdagangan internasional. Dampaknya dapat berimbas pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.

Ketidakpastian tarif berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap komoditas, termasuk minyak. Jika pertumbuhan ekonomi melambat akibat hambatan perdagangan, permintaan energi dapat tertekan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan harga minyak tetap fluktuatif.

Prospek Pergerakan Harga Minyak

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik dan pengetatan pasokan, investor memperkirakan harga minyak akan tetap sensitif. Pergerakan dalam waktu dekat diproyeksi berlangsung fluktuatif mengikuti arus informasi terbaru. Setiap pernyataan resmi dari pihak terkait dapat langsung memengaruhi sentimen pasar.

Stabilitas harga saat ini mencerminkan fase konsolidasi di tengah ketidakpastian. Pasar menimbang risiko konflik militer, kebijakan tarif, serta kondisi pasokan domestik Amerika Serikat. Seluruh faktor tersebut saling berinteraksi membentuk arah pergerakan harga.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Selain itu, data lanjutan mengenai persediaan minyak dan kebijakan perdagangan juga menjadi fokus perhatian. 

Kombinasi variabel tersebut menentukan apakah harga minyak akan tetap stabil atau bergerak lebih volatil dalam beberapa waktu mendatang.

Terkini