OJK Yakin Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Tetap Tumbuh Optimal

Jumat, 20 Februari 2026 | 08:57:41 WIB
OJK Yakin Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Tetap Tumbuh Optimal

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan menegaskan kinerja sektor keuangan tetap solid memasuki 2026. 

Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan mencapai 10-12 persen. Optimisme ini didukung oleh laju dana pihak ketiga yang diperkirakan tumbuh 7-9 persen.

Aset program asuransi ditargetkan meningkat 5-7 persen, sementara aset dana pensiun diperkirakan tumbuh 10-12 persen. Aset program penjaminan diproyeksikan naik 14-16 persen. Sementara piutang perusahaan pembiayaan diyakini bertambah 6-8 persen dan penghimpunan dana di pasar modal ditargetkan mencapai Rp250 triliun.

Friderica Widyasari Dewi menekankan, tren positif kinerja sektor jasa keuangan 2025 berpotensi berlanjut. Keyakinan ini mempertimbangkan peluang dan tantangan yang ada, serta kebijakan strategis yang diambil. Hal ini memperkuat kepercayaan terhadap pertumbuhan kredit yang berkelanjutan.

Kinerja Kuartal IV 2025 Menjadi Landasan

Pada kuartal IV 2025, sektor jasa keuangan tumbuh 7,92 persen secara tahunan. Laju ini menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2021. Pertumbuhan cepat sektor jasa keuangan berimbas pada kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian nasional.

Rasio aset dan produk keuangan Indonesia kini mencapai 184 persen terhadap PDB. Peningkatan ini didorong oleh partisipasi pasar modal yang lebih luas dan diversifikasi produk keuangan. Friderica menegaskan, pertumbuhan tinggi sektor ini antara lain ditopang subsektor asuransi dan dana pensiun.

Beberapa penunjang keuangan yang sebelumnya negatif berhasil turnaround pada 2025 dan kembali mencatat pertumbuhan positif. Hal ini menunjukkan ketahanan sektor jasa keuangan di tengah dinamika pasar. Kondisi ini menjadi fondasi bagi ekspansi kredit perbankan di 2026.

Rincian Rasio Aset dan Produk Keuangan

Rasio aset dan produk keuangan terdiri dari kapitalisasi pasar dan surat utang beredar mencapai Rp24.773 triliun atau 104 persen. Aset perbankan sebesar Rp13.889 triliun atau 58,3 persen. Aset sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) serta lembaga pembiayaan lainnya mencapai Rp4.056 triliun atau 17 persen.

Selain itu, aset lembaga keuangan pasar modal mencapai Rp87,67 triliun atau 0,4 persen. Dana kelolaan tercatat sebesar Rp1.043 triliun atau 4,4 persen. Data ini menunjukkan struktur aset sektor keuangan yang beragam dan mendukung pertumbuhan yang stabil.

Rincian tersebut menjadi indikator bagi OJK untuk menetapkan kebijakan prioritas. Analisis aset yang tepat memungkinkan penguatan ketahanan dan pengembangan ekosistem keuangan. Hal ini menegaskan peran sektor jasa keuangan yang semakin strategis.

Sinergi dengan Industri dan Transformasi Digital

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan industri jasa keuangan memainkan peran strategis. Sinergi antara regulator dan pelaku industri memperkuat tata kelola dan manajemen risiko. “Dengan sinergi regulator dan pelaku industri, tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, serta komitmen terhadap transformasi, saya meyakini sistem keuangan Indonesia akan tetap resilient dan mampu tumbuh sehat di tengah tantangan global,” tegasnya.

Pertumbuhan DPK kembali menguat hingga 11,4 persen secara tahunan. Rasio loan to deposit ratio tetap terjaga di kisaran 84 persen. Hal ini menunjukkan ruang ekspansi kredit masih terbuka luas untuk mendukung sektor produktif.

Transformasi digital dan inovasi produk keuangan menjadi faktor penunjang. Pendalaman pasar dan penguatan keuangan berkelanjutan terus dilakukan. Strategi ini memastikan sektor jasa keuangan tetap adaptif terhadap perubahan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Kokoh dan Siap Dorong Pertumbuhan Kredit

Fundamental perbankan menunjukkan kondisi yang sehat dan kokoh. Capital adequacy ratio berada di level 26 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Buffer modal yang tebal memberi daya tahan terhadap risiko kualitas aset sekaligus mendukung ekspansi kredit secara prudent.

Pertumbuhan kredit perbankan yang diproyeksikan 10-12 persen didukung oleh likuiditas yang kuat. Hal ini mencerminkan kesiapan sektor perbankan dalam menopang perekonomian. OJK menegaskan, penguatan ketahanan, ekosistem yang kontributif, dan pendalaman pasar menjadi fokus kebijakan prioritas.

Dengan fundamental yang solid dan strategi pengelolaan risiko yang disiplin, sistem keuangan Indonesia diyakini mampu tumbuh berkelanjutan. Kredit perbankan yang meningkat akan mendorong aktivitas ekonomi. Optimisme ini menjadi modal penting bagi pertumbuhan nasional pada 2026.

Terkini