Transaksi UMKM Aceh Sumut Sumbar Tembus Jutaan Online

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:09:55 WIB
Transaksi UMKM Aceh Sumut Sumbar Tembus Jutaan Online

JAKARTA - Lonjakan transaksi digital menjadi penanda penting pemulihan ekonomi pascabencana di wilayah barat Sumatera. Kanal khusus produk UMKM di berbagai platform e-commerce terbukti mampu mempertemukan produsen lokal dengan konsumen dalam waktu singkat. 

Di tengah keterbatasan operasional di sebagian daerah, kolaborasi pemerintah dan mitra platform digital membuka jalur distribusi baru yang mempercepat perputaran transaksi. 

Inisiatif ini bukan hanya soal angka penjualan, melainkan upaya membangun kembali kepercayaan pasar terhadap produk daerah terdampak bencana.

Capaian Transaksi Laman Khusus UMKM Daerah

Laman khusus produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada situs jual beli online (e commerce) tercatat melayani 3,5 juta transaksi. 

Informasi itu diungkapkan Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu. Maman mengatakan, jutaan transaksi itu terjadi hanya dalam waktu sekitar 20 hari, mulai dari 22 Januari sampai 11 Februari lalu. 

“Laman khusus untuk belanja produk-produk di tiga provinsi ini. Alhamdulillah sejak tanggal 22 Januari sampai 11 Februari ada total kurang lebih 3,5 juta transaksi yang terjadi,” kata Maman. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kanal tematik di e-commerce mampu mempercepat pemulihan transaksi UMKM melalui kurasi produk dan visibilitas yang lebih tinggi bagi pelaku usaha di daerah terdampak.

Sebaran UMKM Dan Ragam Produk Terlibat

Menurut Maman, transaksi itu melibatkan 2.059 UMKM dengan 2.128 produk. Rinciannya, sebanyak 16.851 transaksi di Aceh melibatkan 1.396 penduduk yang terdiri dari 175 produk fashion, 381 produk kecantikan, food and beverages (FnB) 280 produk, 35 handcraft, dan 525 produk lain. 

Kemudian, 1.343.545 transaksi di Sumut, mencakup 631 produk dengan rincian 71 fashion, 242 kecantikan, 183 FnB, 113 handcraft, dan 22 produk lain. Lalu, 2.000.404 transaksi di Sumbar dengan 101 produk yang terdiri dari 23 fashion, 68 kecantikan, dan 10 produk makanan. 

Data ini memperlihatkan variasi komoditas yang cukup luas, dari fesyen hingga makanan, dengan skala transaksi yang berbeda antarprovinsi. Ragam produk tersebut mencerminkan karakter UMKM lokal sekaligus preferensi pasar di masing-masing wilayah.

Peran Platform Digital Dalam Akselerasi Pasar

Kerja sama laman khusus itu meliputi situs e commerce Tokopedia, TikTok Shop, Shopee, Grab, dan Lazada. “Kementerian UMKM bersama-sama dengan mitra melakukan inisiasi untuk membentuk laman khusus di e-commerce. Laman khusus untuk belanja produk-produk eh di tiga provinsi ini. Alhamdulillah,” ujar Maman.

 Kolaborasi dengan platform besar memberi efek pengungkit pada jangkauan pasar UMKM, karena produk daerah ditempatkan pada etalase tematik yang mudah diakses konsumen. Selain meningkatkan visibilitas, inisiatif ini juga menyederhanakan kurasi produk, promosi, serta kampanye tematik yang relevan dengan agenda pemulihan pascabencana.

Tantangan Pemulihan Dan Koordinasi Lintas Kementerian

Di antara ketiga provinsi itu, Sumut dan Sumbar kegiatan UMKM dinilai sudah relatif normal. Namun, pemerintah masih membutuhkan upaya lebih keras untuk memulihkan transaksi UMKM di Aceh. Meski variasi produk cukup banyak, namun transaksi UMKM di Aceh masih di angka 16.000-an. 

“Ini dikarenakan beberapa kondisi operasional yang tadi disampaikan oleh Pak Mendagri juga itu baru 66 persen yang bisa beraktivitas di sana,” ucap Maman. 

Sebagai informasi, pemerintah dan DPR RI membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar. Satgas itu terdiri dari kementerian terkait mulai Kementerian Dalam Negeri, Kementerian UMKM, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, dan lainnya. 

Koordinasi lintas kementerian ini menjadi krusial untuk memastikan pemulihan tidak hanya terjadi di sisi transaksi digital, tetapi juga pada aspek operasional di lapangan seperti logistik, akses bahan baku, kesehatan pelaku usaha, dan kelancaran distribusi.

Secara keseluruhan, capaian jutaan transaksi dalam waktu singkat menunjukkan potensi kanal digital sebagai instrumen pemulihan ekonomi daerah terdampak bencana. Ke depan, penguatan literasi digital, pendampingan UMKM dalam pengemasan produk, serta perbaikan rantai pasok menjadi faktor penentu agar momentum ini berkelanjutan. 

Dengan sinergi pemerintah, platform, dan pelaku usaha, laman khusus e-commerce dapat berkembang dari program respons darurat menjadi model pemasaran jangka panjang bagi UMKM daerah.

Terkini