Panduan Aman Atur Dosis Obat Diabetes Selama Puasa

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:05:20 WIB
Panduan Aman Atur Dosis Obat Diabetes Selama Puasa

JAKARTA - Bagi banyak penyandang diabetes, datangnya Ramadan sering memunculkan pertanyaan praktis: apakah jadwal minum obat perlu diubah ketika pola makan bergeser ke sahur dan berbuka. 

Kekhawatiran ini wajar, karena puasa membuat jeda asupan lebih panjang di siang hari. Namun, perubahan terapi tidak bisa dilakukan sembarangan. 

Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menegaskan bahwa pengaturan obat merupakan kunci agar puasa tetap aman bagi penderita diabetes. 

Andi menjelaskan bahwa perubahan jam makan selama Ramadhan otomatis memengaruhi jadwal konsumsi obat. 

“Obat tetap sesuai anjuran dokter. Apakah dilanjutkan dengan insulin atau cukup dengan obat oral seperti metformin, itu harus dibicarakan dulu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan alasan untuk mengurangi atau menghentikan obat tanpa arahan medis. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, termasuk respons tubuh terhadap obat dan kestabilan gula darah. 

Karena itu, sebelum Ramadhan dimulai, konsultasi menjadi langkah penting agar terapi disesuaikan dengan aman. Tanpa penyesuaian yang tepat, risiko gangguan gula darah justru meningkat saat pola makan berubah.

Penyesuaian Obat Harus Lewat Konsultasi

Menurut dr. Andi, tidak ada satu aturan umum yang bisa diterapkan kepada semua pasien diabetes. Sebagian pasien mungkin tetap memerlukan insulin dengan penyesuaian waktu suntik. 

Sebagian lainnya cukup menggunakan obat oral seperti metformin. Penyesuaian terapi ini harus melalui evaluasi dokter sebelum Ramadhan, bukan berdasarkan perkiraan sendiri. Pasien yang memutuskan untuk mengurangi atau menghentikan obat berisiko mengalami lonjakan atau penurunan gula darah secara tiba-tiba. 

Kondisi ini dapat membahayakan kesehatan, terlebih saat tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan jam makan dan pola tidur selama puasa.

Konsultasi sebelum puasa juga memberi kesempatan bagi dokter untuk menilai riwayat kadar gula darah, pola makan, serta aktivitas harian pasien. Dengan demikian, rekomendasi yang diberikan bersifat personal dan realistis untuk dijalankan selama Ramadhan. Langkah ini membantu mencegah komplikasi yang tidak diinginkan selama menjalani ibadah puasa.

Risiko Jika Obat Tidak Diatur

Pengaturan obat yang tidak tepat dapat memicu dua kondisi berbahaya, yakni hipoglikemia dan hiperglikemia. Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, sedangkan hiperglikemia terjadi saat kadar gula darah naik terlalu tinggi. Kedua kondisi tersebut tetap bisa terjadi selama Ramadhan apabila terapi tidak disesuaikan dengan perubahan pola makan. 

Perubahan waktu sahur dan berbuka membuat tubuh mengalami jeda panjang tanpa asupan di siang hari. Jika obat tetap diminum seperti biasa tanpa penyesuaian waktu, risiko gangguan kadar gula darah akan meningkat.

Ilustrasi obat yang sering ditampilkan dalam edukasi kesehatan menggambarkan betapa pentingnya ketepatan dosis dan jadwal. Kesalahan kecil dalam pengaturan obat dapat berdampak besar pada kestabilan kondisi pasien.

 Karena itu, penyesuaian terapi selama puasa harus dilakukan secara hati-hati dan terukur, bukan berdasarkan asumsi bahwa makan lebih sedikit berarti obat bisa dikurangi.

Peran Sahur Dan Berbuka Dalam Pengaturan Obat

Dr. Andi menjelaskan bahwa sahur pada dasarnya merupakan pergeseran waktu sarapan, sedangkan berbuka adalah pergeseran waktu makan malam. 

Oleh karena itu, jadwal obat biasanya disesuaikan mengikuti dua waktu makan utama tersebut. Namun, penyesuaian ini tetap perlu dirancang bersama dokter. Termasuk jika ada tambahan terapi atau suplementasi tertentu, seperti vitamin. Selain pengaturan obat, porsi makan saat sahur dan berbuka juga perlu diperhatikan. 

Karbohidrat, sayur, dan buah harus diatur agar tidak memicu lonjakan gula darah, terutama saat berbuka ketika nafsu makan cenderung meningkat.

Pengaturan pola makan yang seimbang membantu obat bekerja lebih efektif dalam menjaga kadar gula darah. Jika porsi makan berlebihan atau tidak terkontrol, terapi yang sudah disesuaikan bisa menjadi kurang optimal. Karena itu, kesadaran pasien dalam mengatur menu sahur dan berbuka menjadi bagian penting dari keberhasilan puasa yang aman.

Puasa Aman Dengan Pengawasan Medis

Dr. Andi mengingatkan agar pasien tidak tergoda mengubah dosis obat sendiri hanya karena merasa makan lebih sedikit saat puasa. Keputusan sepihak dapat berdampak pada kestabilan gula darah. Ia juga menekankan agar pasien tidak “bablas” saat berbuka, karena pola makan berlebihan dapat membuat obat yang sudah diatur menjadi tidak efektif. 

“Semua harus didiskusikan dengan dokter supaya tetap aman,” kata dr. Andi.

Menurutnya, mayoritas penderita diabetes tetap dapat menjalani puasa selama terapi dan pola makan terkontrol. Pengaturan obat yang tepat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari. 

Komunikasi rutin dengan dokter serta pemantauan gula darah menjadi bagian penting dari keberhasilan puasa yang aman. Dengan pengawasan medis yang baik dan kedisiplinan pasien, ibadah puasa dapat dijalani tanpa mengorbankan kesehatan.

Terkini